Chocolat – Sengketa tidak pernah lepas dari suatu konflik. Dimana ada sengketa pasti disitu ada konflik. Begitu banyak konflik dalam kehidupan sehari-hari. Entah konflik personal atau publik. Baik masalah ringan bahkan konflik yang besar dan berat sekalipun. Dan ini pasti dialami oleh semua kalangan.

Chocolat adalah sebuah film yang mempesona. Hanya saja, pesona yang dimiliki “Chocolat” berbeda dengan pesona-pesona yang biasa ditemui di dongeng atau film-film yang biasanya tampil serba aneh dan serba heboh. Pesona yang dimiliki “Chocolat” lebih bersahaja.  Dalam film Chocolat, tidak ada bernyanyi, tidak ada peralatan dapur berbicara, sebaliknya, film ini mengisahkan seorang perempuan yang datang sebagai seorang penjual manisan yang datang dengan penuh keindahan dan kencintaannya pada binatang.

Film Chocolat
Ilustrasi gambar diambil dari http://aldenhamrs.weebly.com

Film dimulai dan memfokuskan perhatian pada kota  Lansquenet, terletak di atas sebuah gunung di daerah pedesaan Prancis pada tahun 1959. Minggu kebaktian gereja sudah berlangsung. Saat itu bertepatan dengan hari Prapaskah saatnya waktu pantang, refleksi, dan penyesalan yang nantinya film ini mengisahkan antara peraturan agama dan niat masing-masing individu.

Bersamaan dengan angin berhembus dari utara, datanglah seorang wanita bernama Vianne  berjalan kaki bersama anak perempuannya, Anouk  sambil mengenakan jubah berwarna merah ke kota itu. Ia menyewa rumah milik Amande untuk ia jadikan kedai cokelat bernama Chocolaterie. Vianne dan Anouk adalah seorang pengembara yang selalu berpindah-pindah tempat, sampai angin utara datang dan mereka ikut pergi bersamanya.

Di kota tersebut ada yang memegang kekuasaan dengan jabatan sebagai wali kota yaitu Comte de Reynaud bersama Pastor Henri dalam membimbing warganya menjadi pribadi yang taat(selalu beribadat di gereja) tidak sedikit yang menyebutnya sebagai radikal.

Secara umum konflik yang terjadi dalam film chocolat  membahas isu yang erat kaitannya dengan kekuasaan,penghianatan, persahabatan dan Cinta . Tema-tema universal ini disajikan melalui kekuasaan Comte sebagai wali kota dan penghianatan kepada Vianne tentang anaknya yang dianggap anak haram  dan  dituduh seorang atheis, konflik sekelompok gipsi atau perompak dari Irlandia yang dianggap tidak bermoral dan dianggap orang buangan. Vianne yang mendirikan kue coklat dan akan mempengaruhi kekuasaan Comte. Cinta yang terjadi antara Vianne dan Roux. Nenek Amande dengan cucunya Luc karna Caroline ibunya Luc melarang bertemu neneknya. Persahabatan Vianne dengan Josephine seorang wanita yang merupakan korban pemukulan brutal oleh suaminya yang kasar yaitu Serge.

Film Chocolat  secara implisit juga dapat dijadikan cermin konflik dalam masyarakat. Konflik sosial ini dipicu oleh perbedaan agama yang menimbulkan persepsi,keyakinan dan pendapat dalam memaknai arti dan aturan yang terdapat dalam agama tersebut. Konflik  agama yang  dapat diamati melalui persepsi salah satu tokoh antogonis Comte, “Bahwa siapa saja yang berbeda keyakinan, maka mereka bukanlah satu golongan” Hingga pemilik toko dikota memberi julukan pada toko mereka sebagai “boikot amoralitas” yang tidak menerima orang buangan atau orang pendatang.

Persepsi rasial seperti ini menimbulkan konflik antartokoh, khususnya Vianne dan Comte de. Vianne yang senantiasa berupaya menghindar dari peraturannya Comte dan Comte yang berusaha mengusir Vianne. Meski demikian Vianne berusaha pada prinsipnya untuk menjalankan toko kuenya dengan perlakuan baiknya kepada masyarakat. Tidak heran banyak orang yang mau menemui dan mencoba kue Vianne secara diam-diam.

Persoalan konflik lain yang dipicu oleh perbedaan persepsi terkait dengan isu atau sentimen agama. Setiap agama mempunyai persepsi dan asumsi yang berbeda satu dengan yang lainnya. Dalam film Chocolat, isu ini berkaitan dalam penafsiran bulan ramadhan atau masa prapaskah “masa puasa” bahwa setiap orang harus menahan nafsu dalam melakukan atau melihat apapun yang nikmat termasuk makanan.

Lebih lanjut, dalam persoalan Cinta yang tumbuh dalam diri Vianne yang memperjuangkan bahwa semua orang setara. Pada perayaan ulang tahun Amande ke-70, Vianne dan Amande membuat acara untuk menyatukan orang-orang yang dianggap menerima mereka. Dalam acara tersebut Caroline melihat Luc yang menyelinap ke pesta, menari bersama neneknya. Saat itu dia mulai melihat bagaimana ketat dia dengan anaknya dan mulai sadar. Bertepatan dengan itu Serge melihat Josephine menari dengan bahagiannya dan mulai menangis,menyadari apa yang telah dia perbuat.

Pada sabtu malam Paskah, ia melihat Caroline pergi bertemu Vianne yang membuat Comte sangat hancur. Dia mengatakan bahwa cokelat membuat orang menyimpang dari iman mereka. Sampai Comte menyelinap ke rumah Vianne dalam rangka merusak persiapan Vianne untuk festival Paskah Setelah sengaja mencicipi sedikit cokelat yang jatuh di bibirnya, ia akhirnya menyerah kepada godaan dan memakan banyak cokelat di layar jendela sebelum ambruk menangis dan akhirnya jatuh tertidur. Keesokan harinya, Vianne membangunkan  Walikota tersebut didera dan mereka saling menghargai satu sama lain. Vianne tidak menceritakan kejadian yang terjadi pada diri Comte kepada masyarakat disana diakhiri dengan khotbah Minggu Paskah berakhir dengan sukses.  Sedangkan Vianne dan anaknya memutuskan untuk tinggal di kota tersebut.

Dalam film ini didukung oleh teorinya Durkheim yang mengatakan bahwa agama adalah salah satu cara untuk mempersatukan masyarakat sehingga tidak menimbulkan konflik dan memiliki sifat yang historis.

Perlakuan Serge terhadap Josephine dan Comte pun didukung oleh teori Hobbens yang mengatakan bahwa manusia memiliki sifat dasar, yaitu rakus yang tidak pernah terpuaskan,penipu dan tidak ada rasa belas kasih. Sifat seperti ini yang membuat kondisi masyarakat penuh dengan konflik.

Dalam teori kesetaraan  Josephine didukung dalam tokoh aliran seperti Margaret Fuller, Harriet Martieu, Anglina Grimke dan Susan Anthony yang mengatakan bahwa semua manusia baik laki-laki maupun perempuan diciptakan seimbang dan serasi. Oleh karena itu, tidak terjadi penindasan antara satu kelompok dengan kelopok lain.

Sebagai kesimpulan, konflik dalam diri manusia dan dalam masyarakat sangat dipengaruhi oleh persepsi manusia. Suatu persoalan bisa menjadi konflik bila persepsi antara satu manusia dengan manusia yang lain berbeda atau saling bertentangan. Film “chocolat” ini mengisahkan tentang pertempuran dan  peperangan antara  iman dan keyakinan kristiani melawan mistisme coklat.  Dimana film chocolat ini memberikan kisah perjuangan Vianne yang memecahkan kekakuan dengan aturan yang ada di sebuah kota Lansquenet di Perancis. Melalui isu persepsi ini, Film Chocolat  ini mengajak  penontonnya  untuk berpikir kritis dan turut memikirkan konflik yang kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari karena hidup ini tidak pernah lepas dari permasalahan.

Catatan :

Sengketa adalah bagian dari cinta dan kasih. Ketika sengketa itu  kamu perjuangkan dan takkan pernah menyerah pasti akan menghasilkan buah yang sangat indah. Tentunya kamu pasti mengatakan bahwa hidup ini sangat indah.

Yogyakarta, 2015

Oleh: Metilda Menimawati Gulo, Mahasiswa Sosiologi Universitas Atma Jaya Yogyakarta berasal dari Nias.

 

Baca juga : Belajar dari Film PK

Share...
Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn

6 thoughts on “CHOCOLAT : SENGKETA DAN CINTA”

  1. aku coment ya, ? mungkin dapat memberi gambaran mengenai sengketa dan cinta. berbicara masalah sengketa adalaha berbicara masalah kepemilikan, artinya dalam mengelola hati mengenai apa yang telah di yakini vianne harus diperjuangkang untuk menetapkan hatinya dan memberikanya kepada dua pilihan tersebut yaitu iman keyakinan kristiani atau memilih mistisme coklat. dan pada dasarnya pilihan itu memang harus ada sebagi mahlik ciptaan tuhan, karna pada dasarnya potensi keburukan dan kebaikan sudah ada pada diri manusia. .. 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *