kawino
kawino
Ilustrasi gambar diambil dari cdn0-a.production.images.static6.com

Ah, baru saja saya pulang berkebun, tiba-tiba manusia itu datang lagi. Ya, namaya Kawino. Dia sangat terkenal di kampungku, Hilimbaruzo. Maklum, pemuda satu ini baru saja melesaikan sekolahnya di salah satu universitas di Medan. Soal kepintaran, saya akui dia ahli khususnya di bidang teknologi. Tetapi dia sangat malas untuk membagi ilmu, atau sekedar bekerja untuk masa depannya. Mungkin baginya, kuliah sekedar untuk menghabiskan uang orangtua dan bersenang-senang, bukan untuk mengabdi atau bekerja.

Seolah semua orang tau itu. Ketika mendengar namanya biasanya mereka berkata “sudahlah tidak usah dipikirkan, toh dia ketika dibilangin tidak akan pernah mendengar,” begitu yang sering kudengar.

Kawino yang diagung-agungkan dan dicintai oleh masyarakat kampungku dulu ternyata sudah berubah. Dia berubah semenjak kuliah di kota.

Jika dulu Kawino sangat sopan, pekerja keras rajin pergi ke ladang atau kebun untuk membabat rumput dan menderes karet, demi membantu orangtuanya. Sekarang, Kawino sangat malu melakukan itu semua.

Dan pagi tadi, ia datang sambil memukul kepalaku. “He Fa’abarani, aine moita baharimbale wamaigi ono alawe sisiga-siga,” katanya.[1]

Sudah kuduga dia mengatakan itu setiap hari Sabtu. Karena setiap Harimbale—sabtu pekan– banyak perempuan cantik dari berbagai desa datang ke pasar untuk menjual atau membeli barang kebutuhan rumah tangga untuk akhir pekan. Dan ketika itu pulalah, pasti Kawino akan menggoda dan memancari salah satu perempuan untuk dipacari dan setelah bosan dicampakkan. Lalu ia akan cari lagi dan begitu seterusnya.

Tapi saya tidak akan membicarakan kemahiran Kawino bisa dengan cepat mendapatkan hati seorang perempuan.

*

Saat Kawino menyapaku dan mengajakku ikut dengannya. Aku langsung faham maksudnya. Dengan santai, sapaan itupun kujawab dengan candaan, “Sudahlah Kawino, tidak perlu kau sakiti lagi hati perempuan, pilihlah salah satu di antara mereka lalu kau nikahi”.

Tapi tiba-tiba saja Kawino emosi dan memukul meja lalu pergi sembari melontar kata-kata yang bernada kecewa. “Percuma namamu Fa’abarani, untuk menggoda perempuan saja kau tak berani”.

Nama saya Fa’abarani jika diartikan dalam bahasa Indonesia adalah keberanian. Tapi jujur saja, dalam soal melukai hati perempuan saya tidak bisa. Saya melihat diri ibu saya jika saya harus mempermainkan hati kaum hawa.

Saya sudah lama berteman dengan Kawino, selain kami tetangga kami juga bersaudara. Dia adalah kakak sepupu saya. Karena sudah memahami sifatnya Kawino saya yakin setelah dia marah dia akan balik lagi dan meminta maaf. Itu salah satu yang membuat saya bertahan berteman sama dia.

*

Benar saja, Kawino datang. “Bologo dodou khogu nakhi”. Katanya.[2]

“Sudahlah Kawino, saatnya kamu berubah menjadi sosok pria yang bertanggungjawab, bekerjalah, jangan menjadi pemalas,” keluhku

Sejenak dia diam, mungkin sedang berpikir, sebelum berkata, “Aku lelah dengan omongan banyak orang yang mengejek dan menghinaku”.

Sambil bercanda dan dengan senyum tipis, ku katakan padanya “Kamu memang terhina Kawino,”

Lalu suasana menjadi hening. Sebelum akhirnya kami berduapun tertawa terbahak.

Semoga ia berubah, Kawino seorang kawan baik yang sedang jadi pusat perhatian masyarakat sekampung. Kawino oh Kawino, kamu sebenarnya pemuda tampan, ah hanya saja …

Nantikan kisah Kawino dan Fa’abarani Selanjutnya.

[1] Bahasa Nias yang artinya: Halo Fa’abarani mari kita pergi ke pekan untuk melihat perempuan cantik.

[2] Yang artinya, “maafkan aku”.

 

Oleh, Metilda Menimawati Gulo

Baca juga: Hidup Sehat dengan Meminum Kopi dan Chocolat

 

Share...
Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn

2 thoughts on “KAWINO”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *